dejavu, bersua lifestyle

Arsitek dan Desainer Interior:

Edwin Nafarin, Meyliza Kotama, Leny Mayasari, Rizal Tantra, Iswanto G. Hartono

facade

facade

artwork

artwork

déjàvu, merupakan sebuah tempat hiburan hasil rancangan dari dpavilion interior yang berada di kota Samarinda, Kalimantan Timur, dibuka pada awal Juli 2008. déjàvu ini dirancang secara spesial untuk menjadikannya sebagai sebuah tempat hiburan yang enak, nyaman dan santai sekaligus mencerminkan lifestyle atau gaya hidup masa kini. Pada akhirnya, lifestyle itu yang akan memberi citra gaya bagi pengguna yang mencari hiburan di sini, karena hiburan itu sendiri telah menjadi sebuah lifestyle entertainment (hiburan gaya hidup). Di situ, suasana yang terjadi bukan hanya suasana real, melainkan sudah “disulap” menjadi hiperreal.

resto

resto

Lifestyle, merupakan istilah yang makin mengemuka akhir-akhir ini, dan mungkin tidak punya definisi tunggal, setiap orang secara personal boleh menafsirkannya sesuai dengan tujuan dan ideologinya masing-masing. Jika di-Indonesia-kan, mungkin bisa dirtikan sebagai gaya hidup, tapi nampaknya lifestyle selalu lebih dari sekedar gaya hidup. Di jaman ketika kehidupan real dan hiperreal susah dibedakan seperti saat ini, lifestyle hampir bisa disinonimkan dengan kehidupan itu sendiri.

pub

pub

Jika anda menginginkan hidup yang nyaman dengan banyak hiburan (entertainmanet) yang menyenangkan, dengan fasilitas yang serba bagus dan menggiurkan, yang menggoda diri anda untuk menggapai citra tertentu, hal itu juga salah satu jabaran dari apa yang dinamakan lifestyle. Sedangkan menurut Sobel (dalam Chaney, 1996), gaya hidup adalah “setiap cara kehidupan yang khas, dan karena itu dapat dikenali, anda adalah bagaimana cara hidup anda”. Kadang-kadang gaya hidup itu mirip dengan kehidupan tontonan, yang memang tidak mencari makna. Yang dicari justru sensasi-sensasi dari hal-hal yang artifisial untuk menghabiskan waktu-waktu yang  terluang. Nah!

ruang karaoke

ruang karaoke

Lifestyle atau gaya hidup juga berarti cara bermain dengan identitas, yang dipasarkan dalam suatu ekonomi waktu luang (a leisure economy). Dan di situ tentu saja komoditas. Komoditas yang ditransformasikan dari nilai-nilai guna ideal dan makna yang dibayangkan menjadi obyek material dan simbolik dari pengalaman yang dijalani. Jangan mencoba mencari-cari makna, karena yang ada adalah lapisan demi lapisan simbolik yang tumpang-tindih. Waktu luang telah dikonstruksikan sekaligus dihancurkan layaknya dekonstruksi.

ruang karaoke

ruang karaoke

déjàvu karya dpavilion interior yang bertemakan lifestyle ini sangat kental dengan nuansa-nuansa itu. Kita disambut dengan ruangan yang penuh cahaya warna-warni, yang berubah dan bergejolak setiap saat. Sorot dari cahaya itu dibuat memesona siapa saja yang melihatnya. Cahaya itu muncul lebih dari sekedar fungsi real sebagai penerang, tetapi secara hiperreal memberi suasana remang yang dinamis, penuh kejutan dan bahkan godaan. Cahaya-cahaya itu juga terus direproduksi dari satu ruang ke ruangan yang lain, sehingga menjadi rangkaian simulacra ala Baudrillard yang tak ada habisnya. Pengunjung akan mengalami ephemeral mystifications (ketakjuban sesaat), mengerumuni déjàvu seperti laron di musim hujan.

Anas Hidayat, dpavilion think tank

July 1, 2009 at 6:49 am Leave a comment

Techno

desainer interior:

Meyliza Kotama,

dpavilion interior

defile de techno

defile de techno

Karya Meyliza Kotama dari dpavilion interior ini berupa sebuah panggung untuk peragaan busana. Peragaan busana itu sendiri bertajuk defile de techno, sehingga di dalam perancangan panggung ini mengeksplorasi ide dari istilah “techno” tersebut.

Techno di sini memang multiinterpretasi, orang bisa menganggap techno sebagai kependekan dari technology. Atau bisa ditafsirkan dari techno music, musik joget yang memberi kesan futuristik, inhuman, impersonal, dikosongkan dari suara-suara alamiah, lebih menonjolkan suara “rakitan mesin”. Esensi dari techno music adalah bahwa musik itu senantiasa mengalami perubahan yang terus-menerus, tanpa henti.

Dalam merancang panggung ini pun dibuat dari lemen-elemen yang mencerminkan kesan futuristik, inhuman, impersonal dan dijauhkan dari kesan alamiah. Maka terbentuklah sebuah panggung dengan tiga bidang persegi besar yang seperti diiris-iris, lalu masing-masing irisan itu ditekuk dengan tekukan ke depan yang kaku, mendadak dan tidak alamiah.

Techno adalah perubahan terus-menerus, hal itu diwujudkan dengan pengolahan lighting-nya, yang bisa mengubah warna bidang-bidang yang menjadi background panggung tersebut, maka seolah-olah panggung itu selalu berubah, bergerak, tak terduga. (dt2)

defile de techno

defile de techno

July 1, 2009 at 4:00 am Leave a comment

dpavilion interiors

dpavilion interior

dpavilion interior

dpavilion interior

June 19, 2009 at 3:58 am Leave a comment


Categories

  • Blogroll

  • Feeds